Makna Puisi Karawang Bekasi Chairil anwar Dan Analisis Artinya


Latar belakang Puisi karawang Bekasi

Salah satu fungsi puisi sebagai karya sastra adalah sebagai catatan, atau semacam diary yang dtulis oleh penulis puisi atau penyair yang menggambarkan kisah nyata dan mengkespresikan perasaan melalui kata-kata yang singkat padat dan puitis. Chairil anwar adalah salah satu penyair atau penulis puisi besar indonesia.

karya-karya chairil anwar kerap dipakai sebagai catatan perjalanan sejarah atau politik dan kondisi sosial budaya indonesia secara umum. Melalui puisi-puisi chairil anwar kita bisa flashback atau melihat catatan sejarah masa lalu.

Salah satu puisi chairil anwar yang berjudul Karawang Bekasi adalah puisi catatan sejarah republik indonesia yang ditulis pada tahun 1948. Masa di mana rakyat indonesia sedang berada dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan republik indonesia.

Tahun 1945 indonesia sudah memproklamirkan diri sebagai negara berdaulat dan merdeka melalui proklamasi 17 agustus 1945. Sejak saat itu, belanda sebagai negara penjajah ingin kembali merebut negara indonesia ke tangan penjajah.

Disinilah para pejuang kemerdekaan tak kenal kata menyerah dalam mempertahankan kemerdekaan dari pendudukan kembali penjajah dan para sekutu. Merdeka atau mati adalah satu-satunya yang tertanam dalam benak para pejuang kemerdekaan. Deru dan kerasnya perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan inilah yang salah satunya tercatat dan tergambar dalam puisi Chairil Anwar yang berjudul Karawang bekasi. 


Karawang Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi,
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan
arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi kami adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi ada yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami

yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi.

Demikianlah sajak yang ditulis oleh Chairil Anwar (26 Juli 1922 – 28 April 1949) pada tahun 1948, untuk mengungkapkan perasaannya terhadap situasi perang melawan tentara Belanda waktu itu. Sajak ini dapat diresapi dan dimengerti maknanya, apabila kita berdiri di hadapan makam dari ratusan korban pembantaian tentara Belanda di Monumen Rawagede, Desa Balongsari, dekat Karawang, dan mendengarkan berbagai kisah pilu dari para korban, janda korban dan anak-cucu korban pembantaian. 

Pada 9 Desember 1947, dalam agresi militer Belanda I yang dilancarkan mulai tanggal 21 Juli 1947, tentara Belanda membantai 431 penduduk desa Rawagede, yang terletak di antara Karawang dan Bekasi, Jawa Barat. Selain itu, ketika tentara Belanda menyerbu Bekasi, ribuan rakyat mengungsi ke arah Karawang, dan antara Karawang dan Bekasi timbul pertempuran, yang juga mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa di kalangan rakyat. Pada 4 Oktober 1948, tentara Belanda melancarkan “sweeping” lagi di Rawagede, dan kali ini 35 orang penduduk dibunuh.

Analisis Makna Puisi Karawang Bekasi

Puisi “Kerawang Bekasi” memiliki tipografi yang biasa saja yaitu rata kiri, berisi tentang cerita kepahlawanan dan harapan para pahlawan kepada para kaum muda. Diksi yang digunakan dalam puisi tersebut menggunakan bahasa sehari-hari. 

Puisi Karawang-Bekasi merupakan puisi yang dibuat pada tahun 1948 oleh Chairi Anwar setelah ia mendapatkan inspirasi dari kejadian di antara kota Karawang dan Bekasi. Puisi ini menceritakan perjuangan para pejuang bangsa dalam menghadapi musuh dan menjaga tokoh negara. Mereka gugur dalam usaha menciptakan perdamaian dan upaya memperoleh kemerdekaan.

Analisis puisi “Kerawang Bekasi” karya Chairil Anwar berdasarkan lapis-lapis normanya yaitu sebagai berikut:

Lapis bunyi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi

Tidak bisa teriak “merdeka” dan angkat senjata lagi.

Pada bait pertama puisi “Kerawang Bekasi” mengandung bunyi yang semacam/sama. Pada bait satu terdapat asonansi “a” dan “i” dan aliterasi “k-l”. pada bait satu juga terdapat sajak awal, tengah, dan akhir yang sama yaitu “i”. asonansi “a” dan “i” juga terlihat pada bait kedua. Begitu juga aliterasi pada bait kedua juga menggunakan huruf “k-l”. Namun, sajak yang digunakan tidak senada. Hal itu dapat dilihat pada penggalan puisi berikut ini.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

Terbayang kami maju dan berdegap hati?

Pada bait ketiga dan keepat pada puisi di atas mengandung asonansi “a” dan “i”. selain asonansi, kedua bait tersebut juga mengandung aliterasi yaitu “t” dan “d”. Persajakan awal menggunakan sajak “I”, sajak tengahnya ‘u”, dan sajak akhirnya “I”. hal itu dapat dilhat dari penggalan berikut ini.

Kami bicara padamu dalam hening dimalam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kammati muda. Yang tinggal tulang diliput debu.

Kenang, kenanglah kami

Bait lima dan bait enam memiliki asonansi bunyi “a” dan “I” yang diselingi dengan bunyi “u”. Aliterasi dari kedua bait tersebut berbeda. Untuk bait kelima, memiliki aliterasi “ k-m” sedangkan pada bait keenam memiliki aliterasi “ k-b”. perbedaan aliterasi itu dimaksudkan agar bunyi yang dihasiklan berbeda dan bervariasi. Selain asonansi dan aliterasi, kedua bait tersebut memiliki persajakan yang hampir sama. Keduanya memiliki sajak awal “I” sajak tengah “ I” dan sajak akhir” a”. hal tiu terlihat dari kutipan di bawah ini.

Kamsudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesaibelum apa-apa

Kamsudah beri kami punya jiwa

Kerja belum selesaibelum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Sama halnya dengan bait-bait sebelumnya. Pada bait ketujuh, kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh memiliki sajak akhir yang sama yaitu “a”. sajak tengah “a” dan “u”. sedangkan sajak awalnya dominan “I”. Asonansi yang digunakan pada keempat bait itu dominan “a-I” dan diselingi dengan “u-e”. selain asonansi, ada juga aliterasi. Aliterasi yang dominan yaitu “k-m” dan diselingi b-p-t”. hal itu dapat dilihat pada penggalan berikut ini.

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalakepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening dimalam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Bait kekesebelas merupakan bait yang berisikan pesan dari pengarang. Hal tiu terlihat dari susunan kata yang selalu diulang-ulang. Hal itu dimaksudkan untuk mempertegas makna. Pengulangan kata tersebut mempengaruhi bunyi yang dihasilkan. Untuk itu, pada bait kesebelas ini asonansi bunyi yang digunakan “a-u” yang diselingi dengan “e-i”. Aliterasi yang digunakan yaitu “b-m”. hal itu terlihat dari kata “Bung” yang selalu diulang pada baris berikutnya dan kata “Menjaga” yang selalu diulang-ulang pula.pada kedua kata tersebut terdapat bunyi huruf “u” dan “e” serta “m” dan “b”. hal itu dapat diperjelas dengan penggalan puisi berikut ini.

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskanlah jiwa kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Syahrir

Pada dua bat terakhir, mengandung asonansi “a” diselingi “i-e-u”. selain itu juga mempunyai aliterasi “k” yang diselingi “m-b-t”. persajakan yang digunakan pun dominan mengguanakan persajakan awal “ e” sajak tengah “ a” dan sajak akhir “i”. persajakan yang bervariasi tersebut membuat puisi menjadi terkesan berwarna dan tidak monoton.

Lapis arti

Lapis arti berupa rangkaian fonem, suku kata, frase, dan kalimat. Analisis lapis arti pada puisi “Kerawang Bekasi” adalah sebagai berikut.

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi

Kami sudah beri kami punya jiwa

Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Pada kata “Kami yang terbaring antara Krawang-Bekasi” ini mengandung makna berapa banyak para pejuang yang telah gugur di daerah Krawang dan Bekasi. Hal itu di perkuat lagi dengan kata:

“Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa”
Pada Kalimat tersebut tertulis “Belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa”. Betapa banyaknya pahlawan yang telah gugur sampai-sampai sang penyair mengingatkan pada kita apa arti dari 4 sampai 5 ribu nyawa yang telah menjadi tulang-tulang yang berserakan,dan tulang-tulang yang berserakan itu berada di daerah kecil yang bernama “KRAWANG dan BEKASI”. Sebuah pengorbanan menjadi total ketika segenap jiwa dan raga menjadi taruhannya. Bumi akan bahagia bila sang putranya menyiram dengan darah para pejuang. Bumi mempunyai nilai lebih bila di tempat itu bersemayam bunga-bunga bangsa yang senantiasa menjadi pembelanya. Bumi tidak akan kecewa karena dari situlah dilahirkan putra-putra terbaiknya yang senantisa siap untuk menjaga dan membelanya.

Makna selanjutnya dijelaskan pada bait di bawah ini:

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

Rangkaian kata di atas menggambarkan bahwa para pahlawan yang telah gugur di Kerawang dan Bekasi tinggal tulang-tulang saja. Namun, tulang-tulang itu adalah milik para pejuang selanjutnya yang masih hidup. Hal itu menandakan bahwa para pejuang yang telah gugur membela tanah air demi para pejuang selanjutnya, demi kita semua rakyat Indonesia.

Hal itu dipertegas dengan rangkaian kata pada bait selanjutnya. Tulisan itu menyatakan bahwa perjuangan mereka (para pahlawan yang telah gugur) demi hidup ita semua memiliki nilai yang sangat besar. Oleh sebab itu, perjuangan yang mengorbankan jiwa itu mengharapkan nilai dari kita semua. Nilai yang dimaksud adalah kesediaan para pejuang untuk meneruskan perjuangannya.

Selanjutnya, pada bait

Kami bicara padamu dalam hening dimalam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Pada baris pertama memiliki arti bahwa para pahlawan bicara pada kita, penerus perjuangan dalam dunia baru mereka yaitu alam kubur yang sunyi sepi. Dilanjutkan pada baris selanjutnya, memperkuat harapan pengarang terhadap kaula muda untuk mengingat perjuangan mereka supaya kaula muda memiliki tekad untuk melanjutkan perjuangan.

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskanlah jiwa kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Syahrir

Rangkaian kata dalam satu bait tersebut merupakan ungkapan para pejuang yang telah gugur kepada para pemuda sebagai penerus bangsa. Para pejuang yang telah gugur mengharapkan para pemuda untuk meneruskan dan menjaga hasil perjuangannya. kata-kata menjaga para tokoh tersebut memiliki maksud bahwa kita harus menjaga kemerdekaan yang mana para tokoh-tokoh itulah yang memproklamasikan kemerdekaan negara kita. Rangkaian kata-kata itu merupakan pesan inti dari penyair kepada kita sebagai pembaca.

Lapis dunia

Puisi Karawang-Bekasi merupakan puisi yang dibuat pada tahun 1946 oleh Chairil Anwar setelah ia mendapatkan inspirasi dari kejadian di antara kota Karawang dan Bekasi. Puisi ini menceritakan perjuangan para pejuang bangsa dalam menghadapi musuh dan menjaga tokoh negara. Mereka gugur dalam usaha menciptakan perdamaian dan upaya memperoleh kemerdekaan. Hal itu dapat dilihat dari pilihan kata yang ada dalam puisi tersebut.

Lapis metafisis

Lapis metafisis merupakan lapis yang menumbuhkan minat pembaca tersebut merenungkan (berkontemplasi) isi dari setiap puisi yang diungkapkan. Lapis metafisis yang terdapat pada puisi. Pada puisi “Krawang-Bekasi” ini sikap penyair terhadap pembaca adalah rendah hati dan tegas hal itu terlihat pada kata pengharapan yang ada yaitu :

Kenang,kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai,belum bisa memperhitungkan 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserekan

Tapi adalah kepunyaanmu

Pada bait di atas terlihat betapa sang penyair dengan kalimat pengaharap kepada pembacanya, penikmatnya, pemerhatinya menggunakan pilihan akhiran “lah” pada kata “kenanglah” dan rasa rendah hati itu dipertegas pada kalimat berikutnya yaitu : “Kami sudah coba apa yang kami bisa”. Pada kalimat tersebut dapat kita ketahui bahwa perjuangan itu penuh risiko tetapi sang penyair menyatakan bahwa ia sudah mencoba apa yang ia bisa walaupun nyawa jadi taruhannya. Meskipun begitu tetap ia menyatakan apa yang dilakukan belum selesai, memang selamanya perjuangan itu akan berkelanjutan sampai hayat dikandung badan. Kalimat lain yang menyatakan merendah adalah :”Kami Cuma tulang-tulang yang berserakan.Tapi adalah kepunyaanmu”. Pada kalimat itu ada kata “Cuma” yang seakan-akan hal itu tidak berarti, karena dinyatakan sebagai tulang-tulang yang berserakan. Padahal tulang-tulang yang berserakan itu adalah tulang para pejuang yang telah mengorbankan diri untuk tanah air dan bangsa.

Pertempuran Karawang Bekasi

Peristiwa yang banyak menimbulkan korban jiwa ini sempat terekam dalam sebuah film dokumenter koleksi saksi sejarah, Des Alwi. Menurut Alwi, gempuran Inggris telah memaksa mundur tentara dan laskar rakyat hingga ke Karawang. "Pasukan Inggris dengan kekuatan pesawat tempur dan tank-tanknya terus melebarkan sayapnya hingga perbatasan Bekasi," kata Alwi saat ditemui SCTV belum lama ini.
Monumen Rawagede
Alwi menambahkan, serangan ini dipicu balas dendam Inggris menyusul jatuhnya pesawat Dakota yang mengangkut 25 personel pasukan Sekutu dari Jakarta ke Semarang, Jawa Tengah. Pesawat ini jatuh di kawasan Rawa Gatel, Cakung. Tentara Inggris ini kemudian ditawan tentara Indonesia.

Menurut saksi sejarah lainnya, Haji Zakaria, saat itu dia bersama pasukannya diminta membawa tawanan ke tangsi militer di Bekasi. Inggris mengeluarkan maklumat agar tawanan perang tidak dibunuh. "Jika maklumat ini tidak diindahkan maka Bekasi akan dibumihanguskan," kata pria yang kini berusia hampir 90 tahun.

Namun entah kenapa tentara Inggris ini malah terbunuh. Begitu mengetahui tentaranya yang ditawan meregang nyawa, Inggis menjadi kalap dan menyerbu Bekasi. Mulanya mereka menyerang melalui jalur Cakung, namun gagal. Tentara Inggris kemudian menerobos melalui Pondok Gede dengan melanggar garis demarkasi. Tank-tank mereka merangsek hingga ke Bekasi. Korban jiwa pun tak terhindarkan dalam pertempuran ini. Tugu di Alun-Alun Kota Bekasi menjadi saksi bisu pertempuran antara Sekutu dan pasukan republik.
Tugu

Trending

Komentar