Penjelasan Cara Kerja Lengan Robot Tawan Iron Man: HOAX?

Pertama mari kita posisikan kita yang mengamati kasus tawan iron man dengan lengan robot buatan ini sebagai penikmat sains atau sience alias ilmu pengetahuan. kesampingkan dulu nilai kemanusiaan yang bahwa tawan iron man ini adalah manusia yang serba kekurangan dan susah. Dengan begitu kita bisa melihat secara objekktif apakah lengan robot bikinan tawan iron man ini benar benar telah memenuhi kaidah sains hingga tidak kita sebut sebagai HOAX alias tipu tipu belaka.

Satu klaim tawan iron man yang kemudian menjadi nilai penting dari lengan robot ini adalah, tangan robot buatan ini bisa digerakan melalui fikiran. kalau sekedar lengan mekanis yang bisa bergerak gerak sih itu adalah hal yang lumrah dan wajar dan jumlahnya sudah tidak terhitung yang dibuat manusia. Lain hal dengan lengan mekanis tawan iron man, yang mana bisa digerakan dengan fikiran. Wow...
tawan robot (sumber kompasiana.com)

Makanya kemudian banyak yang menjuluki tawan si iron man, karena lengen robotnya sudah menyatu dengan dirinya layaknya iron man, tangan tersebut bisa bergerak sesuai dengan fikiran tawan. Pertanyaanya kemudian? benarkah ini? atau hoax kah ini?


Tawan plin plan soal antara EEG dan Lie Detector


Di beberapa situs media mainstream disebtukan, kalau yang menangkap sinyal dari otak tawan yang kemudian diolah menjadi gerak adalah EEG  (Electro Encephalo Graph). lihat berita ( http://news.detik.com/berita/3124214/tawaran-lab-dan-paten-mulai-datang-ini-rencana-tawan-untuk-lengan-robotnya). 

"Makanya saya ingin mengganti EEG ini dengan sensor bionik. Tapi nggak tahu berapa harganya," tambah Tawan. 

Sementara pada berita yang lain ternyata tawan mengaku penangkap sinyal otaknya ternyata bukan EEG melainkan Lie Detector

Barang-barang bekas yang murah dan hanya dibeli tidak lebih dari 100 ribu rupiah dijadikan komponen pendukung lengan bionik tersebut. Yang paling mahal dan menjadikan inti dari lengan tersebut adalah harga mesin semacam Polygraph atau Lie Detector.

Orang biasa menyebutnya mesin pendeteksi kebohongan. Jadi selama ini di beberapa media menyebut bahwa sebelumnya Bli Tawan mengklaim sumber penggerak yang berasal dari sensor syaraf dengan system EEG (Electro Encephalo Gram ).

“Itu tidak benar, yang benar system kerja sensor lie detector. Saya minta tolong kawan saya membelikan di web lewat googling bahasa Indonesia. Harganya sekitar 4,5 juta rupiah”, jelas Bli Tawan kepada kami.

Sumber: http://www.kompasiana.com/takutpada-allah-/mengungkap-rahasia-lengan-robot-bli-tawan_56a597b63dafbdf80450453b

Jadi yang mana yang benar? EEG atau lie detector yang menangkap sinyal otak tawan? karena kedua hal tersebut sama sekali berbeda. lihat penjelasan lie detector

Soal alat lie detector. Apakah dengan ditunjukkan circuitnya kemudian ini benar bekerja ?. Itu hanya sebuah gambar yang tidak membuktikan apapun. Setahu saya lie detector tidak perlu ditaruh dikepala. Lie detector untuk mendeteksi detak jantung.

Biasanya diletakkan pada lengan atau jari. KENYATAANNYA ada alat yang melingkar di kepala. Ini yang awalnya dia katakan sebagai EEG yang kemudian dikoreksi sebagai lie detector. Kalau lie detector yang digunakan maka alat Pak Tawan hanya bisa mati hidup. Kayak remote kipas angin. Persis seperti klaim dia lie detector sebagai on off. 

Padahal kalau melihat gerakan tangan robotnya gak cukup hanya mati hidup. Harus ada program untuk menggerakkannya. Ini saya nemu di internet. Kayaknya ini yang ditunjukkan ke Anda. Silahkan baca di sini juga : https://en.wikipedia.org/wiki/Lie_detection Kalau cuma bilang polygraph saya juga bisa. Karena sekarang di internet semua ada. 

Suatu rangkaian cerita harus bisa disinkronisasi jika ingin meyakini bahwa cerita itu benar. Dan cerita Pak Tawan menabrak semua aturan sinkronisasi cerita. Apakah anda pernah membaca bahwa alat dia cuma selesai dalam 2 bulan meskipun harus gonta-ganti dari remote, bluetooth, android dan eeg. Dia tidak pernah menyebut lie detector sama sekali. 

Kenapa lie detector tiba-tiba muncul ? Terakhir saya baca di media kalau alatnya rusak dan alasan rusaknya pun berbeda-beda. Saya tidak ingin menuduh tapi cerita Pak Tawan sudah mengangkangi semua kaidah ilmiah dan sains

Kalau saya cermati dari berbagai media keterangan beliau selalu berubah. Pada saat berita ini keluar beliau bilang pakai EEG beritanya jelas dan ada di mana-mana sekarang bilang pakai lie detector. Saya gak tahu di gambar Anda itu apakah circuit lie detector yang dia bicarakan atau bukan. 

skema elektronik lengan robot tawan yang digambar secara sderhana sumber (http://www.kompasiana.com/takutpada-allah-/mengungkap-rahasia-lengan-robot-bli-tawan_56a597b63dafbdf80450453b)


Tetapi menurut saya itu hanyalah sebuah circuit lampu kedip atau flip flop. Bahkan bahan praktek anak SMP ini lebih kompleks : 

 Di detik.com (saya gak baca dikompas). Dia bilang gonta ganti controler mulai dari remote, bluetooth, android terakhir EEG. Selesai cuma 2 bulan. 

EEGnya beli di Amerika. Saya sering beli barang teknik juga dari LN. Nyampainya bisa sebulan kadang lebih kalau kena tahan Bea Cukai. Ini tidak masuk akal bahkan seorang profesor doktor belum tentu mampu 2 bulan bikin alat sesempurna itu. Gerakannya pun halus sekali. Apalagi masi menunggu dari LN. 

Ini pendapat Dr. Arjon Turnip yang menyangsikan alat Tawan. Beliau adalah pakar pengendalian otak. http://www.galamedianews.com/bandung-raya/51260/dr-arjon-cipatakan-kursi-roda-super-canggih-berbasis-brain-computer-interface.html http://sains.kompas.com/read/2016/01/24/21041651/Bagaimana.Tangan.Robot.Tawan.Mencengangkan.Sekaligus.Meragukan.Peneliti.Mengungkapnya 

Kemudian kalau liat yang kata beliau adalah kontroler itu juga kurang masuk akal. Di berita dia bilang pakai PC bekas, ada PCB mouse bekas, ada HD 3.5. Kontroler si Tawan harusnya pakai microcontroler bukan PC bekas. Daya gak bakal ngangkat kalau pake PC apalagi hardisknya 3.5. soalnya dia cuma naruh aki kecil disitu, Ini gak masuk akal dan menyalahi kaidah ilmiah. 

Lagipula kontroler si Tawan ini gak butuh hardisk programnya cukup di taruh dalam EPROM. 


 Dosen Udayana kemarin bilang beliau belum bisa menggunakan alat tsb. Alat tsb hanya bisa dipakai Tawan. Beliau hanya menyimpulkan SECARA PRINSIP alat ini MASUK AKAL. 

Beliau bilang BELUM BISA MENGGUNAKAN ALAT INI. Kesimpulannya beliau bilang alat ini belum terbukti bisa bekerja. Dan akan kembali untuk pengujian yang lebih detail. http://regional.kompas.com/read/2016/01/23/19502221/Dosen.Teknik.Mesin.Universitas.Udayana.Uji.Coba.Tangan.Robot.Tawan Terakhir dia bilang alatnya rusak. Di liputan6 alasannya karena dirusakkan ahli dari kampus. 

Di kompas bilangnya rusak kena hujan. Banyak yang bilang kalau mau memastikan harus ke sana sendiri tapi Anda sudah kesana dan ternyata Anda dikasih rangkaian yang katanya lie detector yang kenyataannya hanya Flip Flop dan Anda juga gak tahu. Untuk membuktikan sesuatu kadang tidak harus ke tempatnya. Ilmu pasti ada kaidah yang harus di tepati. Ilmiah tetap ilmiah. Mengukur diameter matahari gak harus datang ke matahari bawa meteran. Analogi lainnya, Polisi mengungkap kasus gak harus melihat langsung kejadian. 

Cukup keterangan saksi dan bukti. Kalau keterangan yang janggal polisi akan bilang patut diduga dan kalau buktinya kuat akan jadi tersangka. Yang saya lihat netizen selalu bilang jangan iri & sok tahu. Ini karya anak bangsa. Kalau memang benar kayak Pak Kusrin & mobil listrik saya akan angkat topi. Tapi kalau ternyata hanya bualan ? 

Apakah hanya karena kurang beruntung kemudian kita mengabaikan akal sehat dan bawa perasaan saja ? Dunia sudah penuh dengan persaingan dan orang Amerika sudah ke bulan kita diberikan sesuatu yang di luar nalar masih percaya ?

Hal yang meragukan dari lengan robot tawan


I Wayan Widhiada, ST, Msc, PhD, dosen Teknik Mesin Universitas Udayana akhir pekan lalu mengunjungi bengkel las I Wayan Sumardana, karena turut penasaran dengan lengan mesin karya pria yang juga dipanggil Tawan tersebut.

Dia pertama kali datang pada hari Jumat (23/1), namun saat itu mendapati Tawan sedang berkunjung ke rumah sakit. Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya dia memutuskan untuk pulang dan berencana kembali keesokan harinya.

Pada hari Sabtu (24/1), dia berhasil menemui Tawan, namun dia mendapati fakta bahwa lengan mesin pria lulusan SMK Rekayasa jurusan ilmu elektro itu rusak. Akhirnya dia pun hanya bertanya dengan Tawan untuk mendapatkan informasi soal lengan mesinnya tersebut.


"Ketika saya tahu lengan robotnya itu rusak saya jadi tidak tahu bagaimana EEG (Electronecephalography) itu bekerja atau tidak. Namun saya bertanya pada dia, dan pada dasarnya pak Tawan tidak bisa menjelaskan secara teori. Dia hanya bilang, dia memejamkan mata dan lengannya langsung bergerak," katanya, saat ditemui CNNIndonesia.com, di ruang kerjanya.

Dari bincang-bincangnya dengan Tawan tersebutlah, menurutnya ada kaidah ilmu robot yang belum pada karya Tawan. Ini yang menyebabkan sistem kerjanya diragukan, tak masuk logika.


I Wayan Sumardana alias Tawan pencipta alat bantu kerja berbentuk lengan mesin, menunjukan mahkota dengan chip "EEG / Lie Detector" (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)


Electronecephalography (EEG)

Menurut Tawan, EEG ini mempunyai model yang simpel berkat adanya lie detector atau alat uji kebohongan yang biasa digunakan oleh pihak kepolisan. Alat itu dipasangkan di kepalanya dengan untaian beberapa kabel.

Alat lie detector inilah yang menjadi sensor otak untuk mengirimkan perintah kepada lengan robotnya. Ada 8 kabel yang dipasangkan, empat kabel dengan masing-masing dua cip untuk melakukan satu perintah.

Apa yang diungkapkan Tawan, dibenarkan oleh Widhiada. Sebab istilah EEG adalah alat pendukung yang digunakan untuk menangkap sinyal listrik yang ada di otak dalam bentuk gelombang-gelombang seperti alfa, beta, teta, dan lain sebagainya.



Wayan Widhiada,ST, Msc, PhD, Dosen Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Udayana

Kemana sensor gerak EEG dikirimkan?

Tawan bilang sensor lie detector tersebut akan mengirimkan sinyal dari kabel penghubung ke power amplifier berbentuk semacam PCB dari radio bekas. PCB inilah yang menjadi tenaga untuk menangkap sinyal dari lie detector.

Karena lie detector miliknya itu mempunyai arus 7,5 volt, maka di PCB itu juga dipasangkan alat untuk menurunkan daya menjadi 5 volt. Ini dilakukan untuk mencegah kelebihan beban arus. Kemudian ada juga motor untuk mengubah arus DC ke AC.

Pak Tawan juga bilang tidak pakai komputer, saya pejamkan mata langsung bergerak, itu tidak jelasI Wayan Widhiada, ST, Msc, PhD

Hal ini yang dianggap mustahil oleh dosen Teknik Mesin Undayana. Sebab, seharusnya sinyal listrik yang dikirimkan oleh otak Tawan dikirim ke cip yang disebut mikrokontroler. Dan itu tidak sesederhana apa yang dipasang oleh pria berusia 31 tahun tersebut.

"Jadi sebelum menangkap sinyal (EEG) harus ada penerjemah ke mikrokontroler, dan sebelum ke mikrokontroler itu harus melalui inverter," katanya.

Apa itu inverter? Inverter adalah alat untuk menerjemahkan bahasa yang dikirimkan sinyal listrik dari otak. Seperti mobil remote control, perlu menerjemahkan bagaimana mobil itu bisa bergerak maju atau mundur yang diperintahkan dari remote.

"Mikrokontroler ini seperti otak. Kalau tidak ada ya seperti aksesoris benda mati saja," katanya.


CNN Indonesia/Adhi Wicaksono

Benarkah perintah otak menggerakan lengan mesin?

Hanya dengan memejamkan mata, lalu Tawan melakukan ritual 'kebohongan' seperti mengatakan bahwa gula itu asin. Karena tahu Tawan bohong, maka alat uji kebohongan akan merespons dengan mengirimkan sinyal listrik untuk menggerakkan lengannya.

Lagi, menurut Widhiada hal tersebut mustahil tanpa mikrokontroler dan inverter yang bisa mengirimkan, menerima perintah untuk bergerak.

"Input referral dari EEG disesuaikan dengan apa, disimpan dimana? Pak Tawan juga bilang tidak pakai komputer, saya pejamkan mata langsung bergerak, itu tidak jelas, "

Dia bilang secara kaidah robotika artinya tidak benar, apalagi Tawan menjelaskan mikrokontroler berasal dari radio bekas, bukan RaspBerry Pi atau buatan sendiri.


Bisakan roda-roda menggerakan lengan?

Dari rangkaian yang dia lihat, Widhiada menyatakan merasa mungkin rangkaian tape deck yang ada di posisi belakang Tawan menjadi penggerak roda gir untuk membuat posisi lengan mesinnya naik atau turun tanpa harus menggunakan EEG, hanya saklar.

Namun lagi-lagi itu pun agaknya mustahil karena daya listrik di yang berasal dari komponen barang printer bekas tak sanggup mengangkat lengan yang sebesar itu.
Baca Juga

0 Response to "Penjelasan Cara Kerja Lengan Robot Tawan Iron Man: HOAX?"

Posting Komentar